0

Sistem Load Shedding (Pelepasan Beban)

Sistem Load Shedding atau sistem pelepasan beban merupakan sistem yang dibuat untuk mengamankan distribusi / transmisi listrik ketika terjadi gangguan. Sistem load shedding akan melepas beban-beban listrik ketika terjadi gangguan pada sistem/jaringan/grid. Kekurangan daya listrik dapat disebabkan oleh berbagai hal diantaranya:

  • Pembangkit listrik mengalami gangguan
  • Gangguan pada sistem distribusi (Transformator / trafo)
  • Gangguan pada sistem Transmisi

Dengan adanya sistem load shedding, kita akan terhindar dari kondisi kehilangan daya total (total blackout) pada sistem.

Prinsip  Sistem Load Shedding

Skema interkoneksi pembangkit listrik

Skema interkoneksi pembangkit listrik

Ketika terjadi gangguan baik disebabkan gangguan pada pembangkit listrik, transmisi ataupun distribusi, total daya yang tersedia akan berkurang. Berkurangnya daya (power) pada sistem dengan kondisi beban yang sama akan menyebabkan terjadinya underfrequency, voltage drop dan overcurrent pada sistem. Untuk mengamankan sistem, ada dua pilihan yang dapat dilakukan:

  1. Menaikkan daya (power) masing-masing pembangkit, jika masih tersedia
  2. Mengurangi beban / pelepasan beban pada sistem (load sehdding)

Opsi pertama dapat dilakukan jika pembangkit listrik yang dimiliki masih bisa menaikkan daya dan jika respon dari pembangkit listrik tersebut cepat. Pembangkit dengan tenaga Gas, Diesel cendeerung mempunyai response yang cepat dibanding dengan uap. Namun jika opsi pertama ini tidak dapat dilakukan maka sistem load shedding akan menyelamatkan sistem kita dari gangguan total (blackout).

Grafik waktu sistem pelepasan beban load shedding

Grafik waktu sistem pelepasan beban load shedding

Cara Kerja Sistem Load Shedding

Bagaimana kita dapat mengaktifkan atau menjalankan sistem load shedding?. Ada dua cara yang dapat dilakukan, pertama dengan membuat pengaktifan dan cascading pada underfrequency relay (ufr) dan sistem SCADA (Supervisory Control And Data Aqcuitition).

Sistem load shedding dengan underfrequency relay

Sistem load shedding seperti ini dijalankan pada PT PLN, sistem ini bekerja dengan memanfaatkan underfrequency relay atau relay proteksi frekuensi rendah. Ketika terjadi kekurangan daya mendadak pada sistem, pada akan terjadi ketidakseimbangan pada sistem. Ketidakseimbangan ini tergantung dari seberapa besar daya yang berkurang. Kondisi seperti ini akan menyebabkan underfrequency pada sistem, maka sebelum kondisi sistem semakin buruk, sebagian beban harus dilepas agar sistem kembali normal.

Grafik sistem pelepasan beban load shedding berdasarkan frekuensi

Grafik sistem pelepasan beban load shedding berdasarkan frekuensi

Sistem load shedding dengan SCADA

Sistem load shedding dengan SCADA secara prinsip sama fungsinya dengan sistem load shedding diatas. Hanya saja dengan menggunakan controller berupa PLC dan SCADA sistem kita bisa memproses pelepasan beban dengan lebih cepat dan beragam input, sistem dapat melakukan pelepasan beban dengan masukan berupa sensor, misalkan ada salah satu pembangkit listrik trip, otomatis breaker generator (52G) oembangkit tersebut open. Kita dapat mejadikan hal tersebut sebagai input untuk melepas beban-beban yang juga terhubung dengan sistem SCADA kita.

Tampilan Human Machine Interface control load shedding menggunakan SCADA

Tampilan Human Machine Interface control load shedding menggunakan SCADA

Seperti di kawasan industri seperti PT Pupuk Sriwidjaya, sistem load shedding dibuat dengan menghubungkan input dan output beban ke PLC, sehingga ketika kita dapat melepas beban secara selektif, berbeda halnya jika kita menggunakan underfrequency relay, kita tidak dapat melepas beban secara selectif namun satu kesatuan dengan beban yang ada pada proteksi ufr tersebut.

Demikianlah artikel belajarlistrik.com tentang sistem load shedding, semoga bermanfaat.

Sumber gambar:

Gambar 1, gambar 2, gambar 3: Electrical Engineering portal

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *